ORIM: Empat Cara Sederhana Orang Tua Menumbuhkan Literasi di Rumah

ORIM: Empat Cara Sederhana Orang Tua Menumbuhkan Literasi di Rumah
25 September 2026 superadmin Bale Atikan Nararya 8 view
Bagikan:

Literasi tidak hanya berlangsung di sekolah. Rumah merupakan ruang penting tempat praktik membaca, menulis, berbicara, menyimak, dan mencari informasi berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika orang tua membacakan buku, mengajak berbicara tentang cerita, menyediakan bahan bacaan, atau menunjukkan kebiasaan membaca, sesungguhnya sedang berlangsung praktik literasi di rumah.

Karena itu, persoalannya bukan hanya berapa banyak buku yang tersedia di rumah, tetapi bagaimana buku, tulisan, bahasa, dan informasi menjadi bagian dari kehidupan keluarga.

Salah satu kerangka yang dapat digunakan untuk melihat praktik tersebut adalah ORIM: Opportunities, Recognition, Interaction, dan Modelling. Kerangka ini melihat keterlibatan orang tua melalui empat bentuk dukungan dalam praktik literasi di rumah (Mufidah et al., 2024).

1. Opportunities: Memberikan Kesempatan

Literasi membutuhkan kesempatan untuk dipraktikkan. Orang tua dapat menyediakan buku, mengajak membaca bersama, memberi kesempatan memilih bacaan, atau melibatkan anggota keluarga dalam kegiatan mencari informasi. Kesempatan juga dapat muncul dari aktivitas sehari-hari, seperti membaca resep, membuat daftar belanja, membaca petunjuk, atau menulis pesan.

Dalam penelitian Heryadi dan Retnaningdyah (2024), kegiatan membaca bersama menjadi salah satu bentuk Opportunities. Anak diberi kesempatan memilih buku, mendengarkan orang tua membaca, kemudian melanjutkan membaca dan membicarakan cerita tersebut. Jadi, kesempatan literasi tidak harus berupa kegiatan yang formal. Kehidupan sehari-hari sudah menyediakan banyak ruang untuk berliterasi.

2. Recognition: Menghargai Usaha

Literasi juga membutuhkan penghargaan terhadap proses. Ketika seseorang mencoba membaca, menulis, bercerita, atau mencari informasi, orang tua dapat memberikan pengakuan terhadap usaha tersebut. Bukan hanya hasil yang dihargai, tetapi juga keberanian untuk mencoba dan perkembangan yang terjadi.

Kalimat sederhana seperti “Sekarang kamu sudah bisa menemukan informasi sendiri” atau “Cerita yang kamu sampaikan tadi menarik” dapat menjadi bentuk pengakuan.

Dalam ORIM, Recognition merupakan salah satu bentuk keterlibatan orang tua dalam mengenali dan menghargai perkembangan literasi (Mufidah et al., 2024).

 

3. Interaction: Membangun Percakapan

Membaca bersama bukan sekadar duduk berdampingan. Yang tidak kalah  dari itu yakni membangun percakapan yang muncul dari kegiatan tersebut.

Setelah membaca cerita, orang tua dapat bertanya: Mengapa tokohnya melakukan itu? Bagian mana yang paling kamu sukai? Apa yang akan kamu lakukan jika berada dalam cerita tersebut?

Percakapan membuat kegiatan membaca menjadi pengalaman berpikir dan berbagi gagasan. Heryadi dan Retnaningdyah (2024) menunjukkan bahwa interaksi orang tua dan keluarga dapat berlangsung melalui membaca bersama, berdiskusi tentang cerita, maupun permainan yang mendukung perkembangan bahasa.

4. Modelling: Menjadi Teladan

Cara sederhana lainnya adalah memberikan contoh. Anak melihat orang tua membaca buku, mencari informasi, menulis catatan, membaca petunjuk, atau menggunakan tulisan dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa literasi bukan hanya urusan sekolah, tetapi bagian dari kehidupan. Dalam kerangka ORIM, Modelling berkaitan dengan keteladanan orang tua dalam menggunakan berbagai praktik literasi sehari-hari (Mufidah et al., 2024).

 

Literasi Tidak Harus Rumit. ORIM memberikan pesan yang sederhana: literasi di rumah tidak harus dibangun melalui kegiatan yang rumit. Tidak harus memiliki ruang baca khusus. Tidak harus menyediakan waktu berjam-jam. Bahkan tidak selalu harus dimulai dengan buku.

Literasi dapat tumbuh dari percakapan di meja makan, cerita sebelum tidur, membaca tulisan di jalan, mencari informasi bersama, atau melihat orang tua menikmati sebuah buku. Karena itu, ORIM dapat diterjemahkan menjadi empat pertanyaan sederhana:

·       Kesempatan apa yang sudah diberikan?

·       Perkembangan apa yang sudah diapresiasi?

·       Apa yang sudah dibicarakan bersama?

·       Keteladanan apa yang sudah ditunjukkan?

Empat pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi awal untuk membangun budaya literasi di rumah. Sebab literasi bukan hanya tumbuh ketika seseorang membaca buku. Literasi tumbuh ketika membaca, berbicara, menulis, menyimak, dan mencari informasi menjadi bagian dari kehidupan keluarga.

 

Daftar Bacaan:

Heryadi, W., & Retnaningdyah, P. (2024). An examination of parental engagement in young learner EFL literacy development. PANYONARA: Journal of English Education, 6(1), 88–106.

Mufidah, I., Retnaningdyah, P., & Mustofa, A. (2024). Parents’ involvement in students’ home English literacy practices with diverse populations. EDUKASIA: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 5(1), 565–578.


Artikel Terbaru

Dukung Gerakan Literasi

Mari berkolaborasi dan berkontribusi bersama Bale Atikan Nararya untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.

Hubungi Kami