Membaca di Sekolah, Bertumbuh di Rumah
Sebuah buku bisa selesai dibaca dalam sehari.
Namun, bagaimana caranya agar keinginan membaca tidak ikut selesai ketika buku
ditutup?
Pertanyaan itu terasa dekat ketika menyaksikan
anak-anak di SDN Kolor II, Kabupaten Sumenep, berlatih menceritakan kembali
buku yang mereka baca. Ada beragam kegiatan membaca: membaca nyaring, mandiri,
dan berpasangan. Anak-anak berkenalan dengan cerita, belajar menyampaikan
pikiran, sekaligus menumbuhkan keberanian untuk berbicara di hadapan
teman-temannya.
Perpustakaan bukan sekadar ruangan berisi rak dan
koleksi. Ia perlu menjadi tempat yang membuat anak ingin kembali, tidak serta
merta karena ada perintah guru, melainkan karena ada cerita yang belum selesai,
tokoh yang membuat penasaran, atau pengetahuan yang ingin mereka bagikan.
Persoalannya, pengalaman membaca di sekolah belum
tentu berlanjut setelah bel pulang berbunyi. Anak membutuhkan lingkungan yang
memberi ruang bagi buku untuk hadir dalam kehidupan sehari-hari. Rumah dan
keluarga bisa menjadi bagian penting dari perjalanan itu.
Sejumlah sekolah dalam Program Perpustakaan Ramah
Anak Nasional (PPRAN) di Kabupaten Sumenep mencoba menjembatani kedua ruang
tersebut. Caranya tidak selalu sama. Ada yang membawa buku pulang, mengajak
orang tua membaca, hingga melibatkan warga sekolah dalam menyiapkan
perpustakaan yang nyaman.
Cerita yang Tidak Berhenti di Kelas
Setiap Sabtu, murid SDN Karduluk I mengikuti
kegiatan GELISAH, singkatan dari Gerakan Literasi Sabtu Hebat. Bapak Habibi
mengajak mereka mengunjungi perpustakaan dan memilih buku untuk dibaca di
rumah. Murid kelas rendah, termasuk anak-anak kelas II, mendapat bimbingan agar
dapat menentukan bacaan yang sesuai.
Kegiatan tidak berhenti ketika buku dibawa pulang
dari perpustakaan sekolah. Orang tua mendampingi anak meninjau isi bacaan,
mendengarkan cerita mereka, dan membantu menyusun ulasan. Pekan berikutnya,
anak membawa hasil ulasan ke sekolah untuk dikumpulkan dan dipresentasikan di
kelas.
Buku pun menempuh perjalanan yang menarik:
dipilih di perpustakaan, dibaca di rumah, kemudian diceritakan kembali di
hadapan guru dan teman-teman.
Peran orang tua dalam rangkaian itu tidak harus
rumit. Mereka tidak dituntut menjadi pengajar atau ahli cerita anak. Kesediaan
mendengarkan, mengajukan pertanyaan sederhana, dan memberi waktu kepada anak
untuk bercerita sudah menjadi bentuk keterlibatan yang bermakna.
Tentu, ada hal yang perlu dijaga. Ulasan dan
presentasi dapat membantu anak memahami bacaan, tetapi jangan sampai setiap
buku berubah menjadi tugas yang membebani. Membaca untuk kesenangan memerlukan
ruang untuk memilih, menikmati, bahkan meninggalkan cerita yang tidak menarik
bagi mereka. Anak perlu belajar memahami buku tanpa kehilangan alasan untuk
menyukainya.
Ketika Waktu
Menunggu Menjadi Waktu Belajar
Pagi dan siang hari di depan sekolah sering
diwarnai kegiatan mengantar dan menjemput anak. Orang tua datang, menunggu,
lalu pulang bersama anak mereka. Salah satunya, di SDN Daleman I. Kepala
Sekolah, Bapak Marzuki bersama para guru melihat ada waktu yang dapat
dimanfaatkan dengan cara berbeda.
Sebagian orang tua menunggu selama 30–60 menit.
Jalan di depan sekolah cukup ramai, sehingga menunggu di sekitar gerbang juga
menghadirkan persoalan keselamatan. Sekolah kemudian mengajak mereka masuk ke
perpustakaan dan mengisi waktu dengan membaca.
Gagasan itu berkembang menjadi GAMELAN, Gerakan
Orang Tua Menjadi Teladan.
Pesannya sederhana: anak tidak hanya belajar dari
apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lakukan. Nasihat
agar rajin membaca akan terasa berbeda ketika anak melihat orang tuanya sendiri
membuka buku atau surat kabar. Keteladanan tidak selalu hadir melalui ceramah
panjang. Kadang-kadang, ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang
kali.
SDN Daleman I juga berlangganan surat kabar Jawa
Pos untuk menyediakan bahan bacaan bagi orang tua. Perpustakaan menjadi
tempat mengikuti informasi, menambah pengetahuan, dan mengisi waktu menunggu
dengan kegiatan yang bermanfaat.
Perubahan ini mungkin terlihat sederhana. Namun,
ada pergeseran cara pandang di dalamnya: orang tua bukan hanya pihak yang
diminta mendukung program sekolah, melainkan bagian dari lingkungan belajar itu
sendiri. Mereka memiliki ruang untuk membaca, sementara anak memperoleh
kesempatan menyaksikan bahwa belajar tidak selesai ketika seseorang
meninggalkan bangku sekolah.
Rak Buku, Kerja
Bersama, dan Rasa Memiliki
Perpustakaan ramah bagi anak membutuhkan lebih dari
sekadar koleksi buku. Ruang sempit, rak kurang sesuai, atau penataan yang
menyulitkan anak dapat memengaruhi kenyamanan mereka. SDN Gingging menghadapi
kebutuhan tersebut dengan melibatkan berbagai pihak dalam proses penataan
perpustakaan.
Kepala sekolah, Ibu Siti Nurhayati, S.Pd.,
berdiskusi dengan para guru sebelum menentukan langkah pengerjaan. Bapak Hendrik
Suprapto dipercaya memimpin pekerjaan karena memiliki pengetahuan tentang
konstruksi. Guru, ketua komite, dan sejumlah orang tua turut memberikan gagasan
sekaligus terlibat langsung.
Mereka memilih rangka galvalum dan papan untuk
dinding dengan mempertimbangkan daya tahan. Ruangan yang terbatas juga menuntut
penyelesaian yang praktis. Rak buku dipasang menempel pada dinding agar tidak terlalu
banyak mengambil ruang.
Masukan dari ketua komite yang memahami
konstruksi membantu menyempurnakan pemasangan rak. Penyangga berbentuk siku
tidak hanya dipasang pada bagian ujung, tetapi juga diperkuat di tengah.
Pendamping PPRAN kemudian menyarankan penggunaan tali penahan supaya buku tidak
mudah jatuh.
Hal-hal seperti ini mungkin tidak banyak terlihat
ketika seseorang datang untuk meminjam buku. Padahal, kenyamanan perpustakaan
juga dibangun melalui keputusan teknis yang dibuat dengan mempertimbangkan
kebutuhan penggunanya.
Ibu Siti Nurhayati mencari referensi mural untuk
menghadirkan kesan ruangan yang lebih lapang dan nyaman. Desainnya dibagikan
kepada guru dan orang tua, lalu dikerjakan bersama dengan penyesuaian selama
pengecatan. Tugas yang lain, mulai dari pembuatan spanduk, penanda level buku,
kartu peminjaman, hingga administrasi, dibagi sesuai kemampuan dan tanggung
jawab masing-masing.
Perpustakaan itu bukan semata-mata hasil
pekerjaan kepala sekolah atau bantuan program. Ada gagasan yang dipertukarkan,
keterampilan yang digunakan, dan tenaga yang disumbangkan. Keterlibatan semacam
ini berpeluang menumbuhkan rasa memiliki karena orang-orang yang akan
menggunakan fasilitas tersebut ikut menentukan bagaimana perpustakaan dibangun
dan dikelola.
Jumlah peminjaman buku di SDN Gingging juga
tercatat meningkat setiap bulan. Catatan itu memberi petunjuk bahwa
perpustakaan semakin aktif digunakan, meskipun belum cukup untuk memastikan
apakah anak-anak telah membaca seluruh buku yang dipinjam atau mengalami
peningkatan kemampuan membaca.
Angka yang
Menyimpan Cerita
Catatan peminjaman buku PPRAN FC 16 Kabupaten
Sumenep menunjukkan perubahan yang mencolok sepanjang April hingga September
2026. Pada April, jumlah buku yang dipinjam tercatat sebanyak 21 buku. Mei
meningkat menjadi 86 buku, disusul 142 buku pada Juni dan 202 buku pada Juli.
Pada Agustus, jumlahnya mencapai 334 buku, kemudian melonjak menjadi 617 buku
pada September.
Secara keseluruhan, terdapat 1.402 buku yang
tercatat dipinjam selama enam bulan.
Dari 21 menjadi 617 buku, aktivitas peminjaman
meningkat hampir 30 kali lipat. Angka ini layak mendapat perhatian, tetapi
tidak seharusnya dibaca sebagai bukti tunggal keberhasilan literasi. Buku yang
dipinjam belum tentu selesai dibaca. Peningkatan jumlah peminjaman juga tidak
otomatis berarti kemampuan membaca anak telah berkembang atau kegiatan membaca
sudah menjadi kebiasaan.
Angka tersebut lebih tepat diperlakukan sebagai
pintu masuk untuk mengajukan pertanyaan berbeda. Buku apa yang paling sering
dipilih anak? Apakah mereka membacanya sampai selesai? Cerita mana yang
dibagikan kepada orang tua atau teman? Apa yang membuat seorang anak kembali ke
perpustakaan setelah peminjaman sebelumnya?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak selalu
ditemukan dalam catatan administrasi. Guru dapat mengamati pilihan bacaan dan
percakapan anak, sementara orang tua bisa menceritakan bagaimana buku digunakan
di rumah. Pengalaman murid sendiri perlu mendapat tempat, sebab merekalah yang
menjalani kegiatan membaca tersebut.
Jumlah peminjaman membantu sekolah melihat
perubahan aktivitas. Pengamatan dan percakapan membantu menjelaskan apa yang
terjadi di baliknya. Keduanya dapat digunakan untuk menilai apakah perpustakaan
benar-benar menjadi bagian dari keseharian anak, bukan hanya tempat yang ramai
pada waktu-waktu tertentu.
Kebiasaan Tidak
Tumbuh dalam Sehari

Pengalaman SDN Kolor II, SDN Karduluk I, SDN
Daleman I, dan SDN Gingging menunjukkan bahwa literasi dapat berkembang melalui
jalan yang beragam. Ada anak yang belajar menceritakan isi buku di kelas, orang
tua yang mendengarkan ulasan bacaan di rumah, keluarga yang menggunakan
perpustakaan saat menunggu, serta warga sekolah yang bergotong royong menata
ruang membaca.
Tidak semua cara itu menghasilkan perubahan
seketika. Presentasi harus disesuaikan dengan kemampuan anak. Pendampingan
keluarga perlu dijaga agar tidak berubah menjadi beban. Perpustakaan pun
membutuhkan pengelolaan yang konsisten, pilihan bacaan yang beragam, dan
kegiatan yang tetap relevan setelah semangat awal mereda.
Bagi pendamping program, pengalaman tersebut
mengingatkan bahwa keberlanjutan tidak cukup ditentukan oleh tersedianya buku
atau selesainya pelatihan. Kepala sekolah perlu memberi dukungan, guru
membutuhkan ruang untuk mencoba, dan orang tua perlu dilibatkan secara wajar.
Sementara itu, anak harus tetap menjadi pusat perhatian: apakah mereka merasa
nyaman memilih buku, menikmati cerita, dan memiliki kesempatan untuk membagikan
apa yang dibaca?
Pendampingan akan lebih bermakna ketika membantu
sekolah menemukan cara yang sesuai dengan keadaan masing-masing. Bukan sekadar
memastikan kegiatan terlaksana, melainkan membuka ruang bagi guru, keluarga,
dan anak untuk menemukan hubungan mereka sendiri dengan buku.
Mungkin kebiasaan membaca memang bermula ketika
seorang anak membuka halaman pertama. Namun, kebiasaan itu memiliki peluang
lebih besar untuk bertahan ketika cerita dapat dibawa pulang, dibicarakan
bersama keluarga, lalu dibagikan kembali kepada orang lain.
Pada akhirnya, keberhasilan perpustakaan bukan
hanya perkara berapa banyak buku meninggalkan rak. Yang lebih penting, apakah
anak menemukan alasan untuk kembali membukanya.
Cari Artikel
Kategori Artikel
Artikel Terbaru
ORIM: Empat Cara Sederhana Orang Tua Menumbuhkan Litera...
Dukung Gerakan Literasi
Mari berkolaborasi dan berkontribusi bersama Bale Atikan Nararya untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.
Hubungi Kami