Membaca di Sekolah, Bertumbuh di Rumah

Membaca di Sekolah, Bertumbuh di Rumah
16 Oktober 2026 Moh Syaiful Bahri Perpustakaan Ramah Anak 48 view
Bagikan:

Sebuah buku bisa selesai dibaca dalam sehari. Namun, bagaimana caranya agar keinginan membaca tidak ikut selesai ketika buku ditutup?

Pertanyaan itu terasa dekat ketika menyaksikan anak-anak di SDN Kolor II, Kabupaten Sumenep, berlatih menceritakan kembali buku yang mereka baca. Ada beragam kegiatan membaca: membaca nyaring, mandiri, dan berpasangan. Anak-anak berkenalan dengan cerita, belajar menyampaikan pikiran, sekaligus menumbuhkan keberanian untuk berbicara di hadapan teman-temannya.

Perpustakaan bukan sekadar ruangan berisi rak dan koleksi. Ia perlu menjadi tempat yang membuat anak ingin kembali, tidak serta merta karena ada perintah guru, melainkan karena ada cerita yang belum selesai, tokoh yang membuat penasaran, atau pengetahuan yang ingin mereka bagikan.

Persoalannya, pengalaman membaca di sekolah belum tentu berlanjut setelah bel pulang berbunyi. Anak membutuhkan lingkungan yang memberi ruang bagi buku untuk hadir dalam kehidupan sehari-hari. Rumah dan keluarga bisa menjadi bagian penting dari perjalanan itu.

Sejumlah sekolah dalam Program Perpustakaan Ramah Anak Nasional (PPRAN) di Kabupaten Sumenep mencoba menjembatani kedua ruang tersebut. Caranya tidak selalu sama. Ada yang membawa buku pulang, mengajak orang tua membaca, hingga melibatkan warga sekolah dalam menyiapkan perpustakaan yang nyaman.


Cerita yang Tidak Berhenti di Kelas

Setiap Sabtu, murid SDN Karduluk I mengikuti kegiatan GELISAH, singkatan dari Gerakan Literasi Sabtu Hebat. Bapak Habibi mengajak mereka mengunjungi perpustakaan dan memilih buku untuk dibaca di rumah. Murid kelas rendah, termasuk anak-anak kelas II, mendapat bimbingan agar dapat menentukan bacaan yang sesuai.

Kegiatan tidak berhenti ketika buku dibawa pulang dari perpustakaan sekolah. Orang tua mendampingi anak meninjau isi bacaan, mendengarkan cerita mereka, dan membantu menyusun ulasan. Pekan berikutnya, anak membawa hasil ulasan ke sekolah untuk dikumpulkan dan dipresentasikan di kelas.

Buku pun menempuh perjalanan yang menarik: dipilih di perpustakaan, dibaca di rumah, kemudian diceritakan kembali di hadapan guru dan teman-teman.

Peran orang tua dalam rangkaian itu tidak harus rumit. Mereka tidak dituntut menjadi pengajar atau ahli cerita anak. Kesediaan mendengarkan, mengajukan pertanyaan sederhana, dan memberi waktu kepada anak untuk bercerita sudah menjadi bentuk keterlibatan yang bermakna.

Tentu, ada hal yang perlu dijaga. Ulasan dan presentasi dapat membantu anak memahami bacaan, tetapi jangan sampai setiap buku berubah menjadi tugas yang membebani. Membaca untuk kesenangan memerlukan ruang untuk memilih, menikmati, bahkan meninggalkan cerita yang tidak menarik bagi mereka. Anak perlu belajar memahami buku tanpa kehilangan alasan untuk menyukainya.

Ketika Waktu Menunggu Menjadi Waktu Belajar

Pagi dan siang hari di depan sekolah sering diwarnai kegiatan mengantar dan menjemput anak. Orang tua datang, menunggu, lalu pulang bersama anak mereka. Salah satunya, di SDN Daleman I. Kepala Sekolah, Bapak Marzuki bersama para guru melihat ada waktu yang dapat dimanfaatkan dengan cara berbeda.

Sebagian orang tua menunggu selama 30–60 menit. Jalan di depan sekolah cukup ramai, sehingga menunggu di sekitar gerbang juga menghadirkan persoalan keselamatan. Sekolah kemudian mengajak mereka masuk ke perpustakaan dan mengisi waktu dengan membaca.

Gagasan itu berkembang menjadi GAMELAN, Gerakan Orang Tua Menjadi Teladan.

Pesannya sederhana: anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lakukan. Nasihat agar rajin membaca akan terasa berbeda ketika anak melihat orang tuanya sendiri membuka buku atau surat kabar. Keteladanan tidak selalu hadir melalui ceramah panjang. Kadang-kadang, ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.

SDN Daleman I juga berlangganan surat kabar Jawa Pos untuk menyediakan bahan bacaan bagi orang tua. Perpustakaan menjadi tempat mengikuti informasi, menambah pengetahuan, dan mengisi waktu menunggu dengan kegiatan yang bermanfaat.

Perubahan ini mungkin terlihat sederhana. Namun, ada pergeseran cara pandang di dalamnya: orang tua bukan hanya pihak yang diminta mendukung program sekolah, melainkan bagian dari lingkungan belajar itu sendiri. Mereka memiliki ruang untuk membaca, sementara anak memperoleh kesempatan menyaksikan bahwa belajar tidak selesai ketika seseorang meninggalkan bangku sekolah.

Rak Buku, Kerja Bersama, dan Rasa Memiliki

Perpustakaan ramah bagi anak membutuhkan lebih dari sekadar koleksi buku. Ruang sempit, rak kurang sesuai, atau penataan yang menyulitkan anak dapat memengaruhi kenyamanan mereka. SDN Gingging menghadapi kebutuhan tersebut dengan melibatkan berbagai pihak dalam proses penataan perpustakaan.

Kepala sekolah, Ibu Siti Nurhayati, S.Pd., berdiskusi dengan para guru sebelum menentukan langkah pengerjaan. Bapak Hendrik Suprapto dipercaya memimpin pekerjaan karena memiliki pengetahuan tentang konstruksi. Guru, ketua komite, dan sejumlah orang tua turut memberikan gagasan sekaligus terlibat langsung.

Mereka memilih rangka galvalum dan papan untuk dinding dengan mempertimbangkan daya tahan. Ruangan yang terbatas juga menuntut penyelesaian yang praktis. Rak buku dipasang menempel pada dinding agar tidak terlalu banyak mengambil ruang.

Masukan dari ketua komite yang memahami konstruksi membantu menyempurnakan pemasangan rak. Penyangga berbentuk siku tidak hanya dipasang pada bagian ujung, tetapi juga diperkuat di tengah. Pendamping PPRAN kemudian menyarankan penggunaan tali penahan supaya buku tidak mudah jatuh.

Hal-hal seperti ini mungkin tidak banyak terlihat ketika seseorang datang untuk meminjam buku. Padahal, kenyamanan perpustakaan juga dibangun melalui keputusan teknis yang dibuat dengan mempertimbangkan kebutuhan penggunanya.

Ibu Siti Nurhayati mencari referensi mural untuk menghadirkan kesan ruangan yang lebih lapang dan nyaman. Desainnya dibagikan kepada guru dan orang tua, lalu dikerjakan bersama dengan penyesuaian selama pengecatan. Tugas yang lain, mulai dari pembuatan spanduk, penanda level buku, kartu peminjaman, hingga administrasi, dibagi sesuai kemampuan dan tanggung jawab masing-masing.

Perpustakaan itu bukan semata-mata hasil pekerjaan kepala sekolah atau bantuan program. Ada gagasan yang dipertukarkan, keterampilan yang digunakan, dan tenaga yang disumbangkan. Keterlibatan semacam ini berpeluang menumbuhkan rasa memiliki karena orang-orang yang akan menggunakan fasilitas tersebut ikut menentukan bagaimana perpustakaan dibangun dan dikelola.

Jumlah peminjaman buku di SDN Gingging juga tercatat meningkat setiap bulan. Catatan itu memberi petunjuk bahwa perpustakaan semakin aktif digunakan, meskipun belum cukup untuk memastikan apakah anak-anak telah membaca seluruh buku yang dipinjam atau mengalami peningkatan kemampuan membaca.

Angka yang Menyimpan Cerita

Catatan peminjaman buku PPRAN FC 16 Kabupaten Sumenep menunjukkan perubahan yang mencolok sepanjang April hingga September 2026. Pada April, jumlah buku yang dipinjam tercatat sebanyak 21 buku. Mei meningkat menjadi 86 buku, disusul 142 buku pada Juni dan 202 buku pada Juli. Pada Agustus, jumlahnya mencapai 334 buku, kemudian melonjak menjadi 617 buku pada September.

Secara keseluruhan, terdapat 1.402 buku yang tercatat dipinjam selama enam bulan.

Dari 21 menjadi 617 buku, aktivitas peminjaman meningkat hampir 30 kali lipat. Angka ini layak mendapat perhatian, tetapi tidak seharusnya dibaca sebagai bukti tunggal keberhasilan literasi. Buku yang dipinjam belum tentu selesai dibaca. Peningkatan jumlah peminjaman juga tidak otomatis berarti kemampuan membaca anak telah berkembang atau kegiatan membaca sudah menjadi kebiasaan.

Angka tersebut lebih tepat diperlakukan sebagai pintu masuk untuk mengajukan pertanyaan berbeda. Buku apa yang paling sering dipilih anak? Apakah mereka membacanya sampai selesai? Cerita mana yang dibagikan kepada orang tua atau teman? Apa yang membuat seorang anak kembali ke perpustakaan setelah peminjaman sebelumnya?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak selalu ditemukan dalam catatan administrasi. Guru dapat mengamati pilihan bacaan dan percakapan anak, sementara orang tua bisa menceritakan bagaimana buku digunakan di rumah. Pengalaman murid sendiri perlu mendapat tempat, sebab merekalah yang menjalani kegiatan membaca tersebut.

Jumlah peminjaman membantu sekolah melihat perubahan aktivitas. Pengamatan dan percakapan membantu menjelaskan apa yang terjadi di baliknya. Keduanya dapat digunakan untuk menilai apakah perpustakaan benar-benar menjadi bagian dari keseharian anak, bukan hanya tempat yang ramai pada waktu-waktu tertentu.

Kebiasaan Tidak Tumbuh dalam Sehari

Pengalaman SDN Kolor II, SDN Karduluk I, SDN Daleman I, dan SDN Gingging menunjukkan bahwa literasi dapat berkembang melalui jalan yang beragam. Ada anak yang belajar menceritakan isi buku di kelas, orang tua yang mendengarkan ulasan bacaan di rumah, keluarga yang menggunakan perpustakaan saat menunggu, serta warga sekolah yang bergotong royong menata ruang membaca.

Tidak semua cara itu menghasilkan perubahan seketika. Presentasi harus disesuaikan dengan kemampuan anak. Pendampingan keluarga perlu dijaga agar tidak berubah menjadi beban. Perpustakaan pun membutuhkan pengelolaan yang konsisten, pilihan bacaan yang beragam, dan kegiatan yang tetap relevan setelah semangat awal mereda.

Bagi pendamping program, pengalaman tersebut mengingatkan bahwa keberlanjutan tidak cukup ditentukan oleh tersedianya buku atau selesainya pelatihan. Kepala sekolah perlu memberi dukungan, guru membutuhkan ruang untuk mencoba, dan orang tua perlu dilibatkan secara wajar. Sementara itu, anak harus tetap menjadi pusat perhatian: apakah mereka merasa nyaman memilih buku, menikmati cerita, dan memiliki kesempatan untuk membagikan apa yang dibaca?

Pendampingan akan lebih bermakna ketika membantu sekolah menemukan cara yang sesuai dengan keadaan masing-masing. Bukan sekadar memastikan kegiatan terlaksana, melainkan membuka ruang bagi guru, keluarga, dan anak untuk menemukan hubungan mereka sendiri dengan buku.

Mungkin kebiasaan membaca memang bermula ketika seorang anak membuka halaman pertama. Namun, kebiasaan itu memiliki peluang lebih besar untuk bertahan ketika cerita dapat dibawa pulang, dibicarakan bersama keluarga, lalu dibagikan kembali kepada orang lain.

Pada akhirnya, keberhasilan perpustakaan bukan hanya perkara berapa banyak buku meninggalkan rak. Yang lebih penting, apakah anak menemukan alasan untuk kembali membukanya.

 


Dukung Gerakan Literasi

Mari berkolaborasi dan berkontribusi bersama Bale Atikan Nararya untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.

Hubungi Kami